Kalsel Gencarkan Operasi Pasar dan Program Cetak Sawah Demi Ketahanan Pangan
Kalsel Gencarkan Operasi Pasar dan Program Cetak Sawah Demi Ketahanan Pangan
Banjarmasin, Kalimantan Selatan — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus bergerak cepat dalam menghadapi fluktuasi harga bahan pokok dan ancaman krisis pangan. Sejumlah kebijakan strategis digenjot, mulai dari operasi pasar murah di berbagai wilayah, hingga program cetak sawah baru untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kegiatan yang berlangsung sejak kemarin ini merupakan bagian dari langkah terpadu Pemprov Kalsel bersama pemerintah kabupaten/kota, Bulog, dan dinas terkait dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok dan memperluas lahan produksi pertanian di tengah tantangan perubahan iklim dan distribusi logistik.
Operasi Pasar Jadi Solusi Stabilkan Harga
Operasi pasar murah dilaksanakan serentak di beberapa titik strategis di Banjarmasin, Banjarbaru, dan sejumlah kabupaten lainnya. Kegiatan ini menyasar pasar tradisional, balai desa, dan kawasan padat penduduk yang rentan terhadap lonjakan harga.
Menurut Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Zulkifli, operasi pasar ini menyuplai berbagai komoditas penting seperti beras, gula, minyak goreng, telur, dan tepung terigu dengan harga di bawah pasar.
“Langkah ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Harga kebutuhan pokok melonjak cukup signifikan dalam sebulan terakhir, dan operasi pasar ini diharapkan bisa menekan harga sekaligus memenuhi kebutuhan warga,” ujar Zulkifli.
Warga pun menyambut antusias. Di salah satu titik operasi pasar di Kecamatan Sungai Tabuk, ratusan warga rela antre sejak pagi untuk mendapatkan bahan pokok murah.
“Alhamdulillah, harga beras di sini jauh lebih murah dibanding pasar. Kalau di warung bisa sampai Rp15.000 per kg, di sini cuma Rp10.000. Sangat membantu,” ungkap Fitri, warga setempat.
Program Cetak Sawah Baru, Targetkan 1.000 Hektare Tahun Ini
Tak hanya menyentuh sisi konsumsi, Pemprov Kalsel juga fokus pada aspek produksi. Program cetak sawah baru menjadi andalan untuk menambah pasokan pangan lokal dan memperluas area tanam padi di provinsi ini.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Ir. Surya Wibawa, menyebutkan bahwa target tahun ini adalah mencetak setidaknya 1.000 hektare lahan sawah baru di beberapa kabupaten seperti Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan Tanah Laut.
“Ini bagian dari upaya jangka panjang. Dengan perluasan lahan, kita bisa meningkatkan produksi beras lokal, mengurangi ketergantungan pada pasokan luar, serta menyerap tenaga kerja di sektor pertanian,” terang Surya.
Proses cetak sawah melibatkan sinergi antara petani lokal, kelompok tani, dan pendamping lapangan dari dinas. Selain itu, pemerintah juga menyediakan bantuan alat berat, bibit padi unggul, dan subsidi pupuk untuk memastikan hasil yang maksimal.
Petani Dilibatkan Aktif, Pemberdayaan Jadi Prioritas
Program cetak sawah ini juga didesain sebagai proyek pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar perluasan lahan. Setiap calon penerima lahan wajib mengikuti pelatihan pengolahan tanah, pemilihan bibit, hingga sistem tanam modern yang hemat air dan pupuk.
“Kami ingin petani Kalsel naik kelas. Tidak hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas. Dengan teknik pertanian terbaru, produktivitas bisa meningkat meski lahan terbatas,” ungkap Surya.
Beberapa kelompok tani mengaku optimis. Mahmud, ketua kelompok tani di Kabupaten Tabalong, menyebut bantuan dari pemerintah sangat membantu petani kecil yang selama ini terkendala akses modal dan alat.
“Dulu kami hanya bisa tanam satu kali setahun. Sekarang dengan cetak sawah dan alat pendukung, kami targetkan bisa dua kali panen dalam setahun,” kata Mahmud.
Sinergi Antarinstansi dan Pihak Swasta
Keberhasilan dua program besar ini tidak lepas dari sinergi antara berbagai pihak. Selain instansi pemerintahan, beberapa perusahaan swasta juga ikut mendukung dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Perusahaan sektor perkebunan dan tambang di Kalimantan Selatan ikut berperan melalui bantuan peralatan, pendampingan teknis, serta penyediaan pupuk organik yang ramah lingkungan.
“Kami yakin ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Ini adalah investasi sosial yang akan berdampak luas bagi masyarakat,” ujar Hendra, perwakilan CSR sebuah perusahaan tambang di Tanah Bumbu.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Gubernur Kalsel, H. Sahbirin Noor, dalam keterangannya menyebut dua program ini sebagai prioritas strategis Pemprov. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung langkah tersebut demi masa depan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya mampu membeli, tapi juga mampu memproduksi. Ketahanan pangan adalah pondasi utama pembangunan daerah. Jika pangan aman, maka stabilitas sosial dan ekonomi juga aman,” kata gubernur yang akrab disapa Paman Birin.
Dalam waktu dekat, Pemprov Kalsel juga akan meluncurkan program edukasi pertanian digital dan membuka akses pasar lebih luas bagi petani lokal melalui e-commerce daerah.
Penutup
Langkah pemerintah Kalimantan Selatan yang agresif dalam melaksanakan operasi pasar murah dan program cetak sawah baru membuktikan komitmen serius dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui kolaborasi lintas sektor, program ini tak hanya menstabilkan harga, tapi juga memperkuat ekonomi rakyat dari akar rumput. Semoga keberlanjutan program ini dapat menjadi contoh inspiratif bagi provinsi lain di Indonesia.