
Telegram Rahasia Kapolda Kalteng Bocor: Pelaku PETI Bergegas Amankan Diri Jelang Penertiban
Palangka raya — Sebuah informasi mengejutkan beredar di kalangan para penambang emas ilegal (PETI) di Kalimantan Tengah. Sebuah telegram rahasia yang dikirim oleh Kapolda Kalteng kepada jajarannya terkait rencana penertiban aktivitas PETI dikabarkan bocor ke publik. Kebocoran ini sontak membuat para pelaku tambang ilegal ketar-ketir dan mulai mengevakuasi alat-alat berat serta hasil tambang mereka dari lokasi operasi.
Kabar ini berkembang cepat sejak pertengahan pekan ini dan telah memicu gelombang kekhawatiran di beberapa titik panas pertambangan liar seperti di kawasan Kabupaten Kotawaringin Timur, Gunung Mas, hingga Kapuas Hulu. Beberapa saksi mata mengaku melihat alat berat dikeluarkan dari hutan, dan para pekerja tambang mendadak menghilang tanpa jejak.
Rencana Penertiban Sudah Disiapkan Matang
Menurut sumber internal dari kepolisian yang enggan disebutkan namanya, telegram rahasia tersebut merupakan bagian dari strategi besar penertiban aktivitas pertambangan ilegal di wilayah Kalteng yang selama ini merugikan lingkungan, masyarakat adat, dan negara.
“Dalam telegram itu disebutkan beberapa titik yang akan menjadi fokus operasi. Tujuannya jelas: membongkar jaringan penambang ilegal yang makin berani dan terorganisir,” ujar sumber tersebut.
Namun, entah bagaimana, isi telegram ini diketahui lebih dulu oleh para pelaku PETI. Dugaan kuat mengarah pada adanya kebocoran informasi dari internal kepolisian sendiri. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi publik: siapa yang membocorkan, dan apakah ada oknum yang terlibat dalam praktik tambang ilegal tersebut?
Pelaku PETI Mulai Tiarap
Sejak isu telegram rahasia ini mencuat, aktivitas tambang liar di beberapa titik nyaris lumpuh. Lokasi yang biasanya dipadati suara mesin dompeng dan ekskavator kini sepi. Para pemilik tambang pun dikabarkan memindahkan logistik dan alat berat ke luar lokasi, bahkan ada yang menyewa truk dari luar daerah untuk menyamarkan keberadaan mereka.
Di wilayah Sungai Katingan misalnya, warga melaporkan banyaknya truk keluar masuk hutan sejak dua hari terakhir, diduga membawa hasil tambang dan peralatan PETI. “Biasanya mereka beroperasi malam, sekarang siang pun ramai,” kata Rinto, seorang warga setempat.
Dampak Lingkungan yang Sudah Mengkhawatirkan
Kegiatan tambang emas ilegal di Kalimantan Tengah bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga soal kerusakan lingkungan yang sangat serius. Sungai-sungai menjadi keruh karena limbah merkuri, hutan gundul, dan satwa terganggu habitatnya.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup menyambut baik rencana penertiban ini. “Sudah saatnya negara turun tangan serius. Kalau tidak, kita akan kehilangan generasi dan alam yang sudah rusak parah,” ujar Yanti, aktivis lingkungan dari Palangkaraya.
Kapolda Kalteng Akan Evaluasi Internal
Menanggapi isu kebocoran telegram tersebut, Kapolda Kalimantan Tengah dikabarkan akan melakukan evaluasi besar-besaran di jajaran internalnya. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti membocorkan informasi rahasia operasi akan dikenakan sanksi berat sesuai hukum yang berlaku.
“Ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, ini soal integritas dan tanggung jawab terhadap bangsa. Jika terbukti, kami tidak akan ragu menindak,” tegasnya dalam konferensi pers singkat.
Kesimpulan: Penertiban Harus Tetap Jalan, Tanpa Kompromi
Meskipun informasi penertiban telah bocor, Kapolda Kalteng dan jajarannya diminta tidak mengendurkan langkah. Justru hal ini bisa menjadi momen untuk mengaudit sistem komunikasi internal, sekaligus menindak tegas semua pihak—baik penambang ilegal maupun oknum aparat—yang terlibat dalam jaringan tersebut.
Rakyat Kalteng menunggu aksi nyata. Alam yang rusak harus dipulihkan, dan hukum harus ditegakkan tanpa tebang pilih. Kebocoran telegram bisa jadi sinyal bahwa perang terhadap PETI tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga di balik meja.