“Heboh Pernyataan Sopir di Video Dedi Mulyadi: Suku Banjar Disebut Pemalas, Netizen Bereaksi Keras!”
Kalimantan — Media sosial kembali diguncang oleh cuplikan video dari kanal YouTube milik mantan Bupati Purwakarta sekaligus anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, yang menampilkan obrolannya dengan seorang sopir asal Kalimantan. Dalam video tersebut, sang sopir secara blak-blakan menyebut bahwa orang Banjar “pemalas”, sebuah pernyataan yang sontak memicu kontroversi dan reaksi keras dari netizen, khususnya masyarakat Kalimantan Selatan.
Video yang diunggah ke kanal pribadi Dedi Mulyadi itu awalnya menampilkan rutinitas harian Dedi saat berkeliling menyapa warga di berbagai pelosok daerah. Namun suasana berubah ketika ia mewawancarai sopir truk yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Dalam obrolan santai tersebut, sopir yang tak disebutkan namanya itu dengan ringan mengeluarkan pernyataan bernada stereotip terhadap suku Banjar.
“Orang Banjar tuh malas kerja kasar, beda sama kita orang Dayak,” ucap sang sopir. Dedi terlihat terkejut, namun berusaha menanggapi dengan tenang sambil bertanya lebih lanjut. Namun cuplikan itulah yang kemudian dipotong dan viral di media sosial, terutama di TikTok dan X (sebelumnya Twitter).
Respons Netizen dan Tokoh Masyarakat Banjar
Tak butuh waktu lama, potongan video tersebut langsung menyulut emosi sejumlah warga Kalimantan Selatan. Banyak dari mereka merasa tersinggung dengan generalisasi yang disebut dalam video. Tagar #KamiOrangBanjar sempat trending di X selama beberapa jam, menunjukkan gelombang solidaritas dari warga Banjar di berbagai penjuru Indonesia.
Seorang tokoh adat Banjar, Haji Muhammad Rizwan, mengecam pernyataan tersebut sebagai bentuk stereotip negatif yang bisa merusak kerukunan antarsuku. “Pernyataan seperti itu tidak bisa dibenarkan, apalagi jika disiarkan di platform publik. Kita tidak boleh menggeneralisasi satu kelompok hanya berdasarkan pengalaman pribadi,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Dedi Mulyadi Beri Klarifikasi
Menanggapi kehebohan tersebut, Dedi Mulyadi segera mengunggah video klarifikasi melalui kanal YouTube-nya. Dalam video itu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak mendukung pernyataan sopir tersebut, dan menyayangkan bahwa sebagian netizen hanya menonton potongan video tanpa melihat konteks utuhnya.
“Saya tidak pernah bermaksud menghina suku mana pun. Saya hanya mendengarkan keluh kesah warga dengan pendekatan humanis seperti biasa. Justru saya ingin menunjukkan keragaman suara dari masyarakat,” ujar Dedi.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Banjar apabila konten tersebut menimbulkan ketidaknyamanan. “Saya mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi, mari kita jaga kerukunan dan saling menghargai budaya masing-masing.”
Isu Lama yang Kembali Muncul
Menurut pengamat sosial dan budaya dari Universitas Lambung Mangkurat, kasus ini menunjukkan bahwa isu suku dan stereotip masih sangat sensitif di Indonesia. “Pernyataan seperti ‘pemalas’, ‘keras’, atau ‘bodoh’ yang dilekatkan ke kelompok etnis tertentu bisa menjadi bara dalam sekam jika tidak ditanggapi dengan bijak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peran tokoh publik sangat penting dalam meredam isu-isu sensitif, terutama di era media sosial yang cepat menyebarkan informasi, baik itu benar maupun menyesatkan.
Penutup: Bijak Bermedia Sosial
Kasus viral ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya bijak dalam bermedia sosial. Apa yang dianggap candaan atau pendapat pribadi bisa berdampak luas ketika diunggah ke ruang publik. Setiap ucapan harus disaring, terlebih jika menyangkut identitas suatu suku atau budaya.
Kita sebagai masyarakat Indonesia yang beragam harus terus belajar untuk tidak saling menghakimi dan menjaga ruang publik yang sehat. Keragaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan dalam semangat persatuan.