Asap Pekat Masih Selimuti Kalimantan Timur, Karhutla Belum Mereda
Samarinda, Kalimantan Timur —
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Asap tebal masih menyelimuti berbagai daerah, mulai dari kawasan hutan konservasi, lahan pertanian, hingga mendekati permukiman warga.
Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur, titik panas atau hotspot masih terdeteksi di beberapa kabupaten/kota, terutama di wilayah Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan sebagian wilayah di Samarinda. Situasi ini membuat kualitas udara memburuk dan mengganggu aktivitas warga sehari-hari.
Kondisi Terkini di Lapangan
Hingga Senin pagi (28/07), kabut asap pekat terlihat masih menggantung rendah di beberapa wilayah seperti Muara Badak, Sangatta, dan sebagian area di sekitar Jalan Poros Balikpapan-Samarinda. Jarak pandang berkurang drastis, bahkan di beberapa titik hanya sekitar 300 meter. Warga yang beraktivitas di luar rumah terlihat menggunakan masker, dan sebagian memilih tetap di rumah.
“Sudah hampir seminggu ini asap tebal terus menyelimuti desa kami. Mata perih, napas sesak, dan anak-anak jadi sering batuk,” ujar Rahmat, warga Desa Santan Ulu, Kutai Kartanegara.
Selain dampak pada kesehatan, karhutla juga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup signifikan. Beberapa lahan pertanian warga hangus terbakar, termasuk tanaman pangan seperti jagung dan padi yang seharusnya siap panen dalam waktu dekat.
Upaya Pemadaman Masih Terus Dilakukan
Petugas gabungan dari BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat masih berjibaku memadamkan titik-titik api yang tersebar. Namun upaya pemadaman ini bukan perkara mudah, karena mayoritas lahan yang terbakar adalah lahan gambut yang mudah menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
“Api sering muncul kembali meskipun permukaan sudah disiram. Jadi kami harus terus memantau dan melakukan penyekatan,” ujar Komandan Regu Manggala Agni, Hendri Kurniawan.
Hingga kini, lebih dari 1.200 hektare lahan dilaporkan terbakar selama musim kemarau 2025 ini di Kalimantan Timur. Petugas juga dibantu dengan pemantauan udara menggunakan drone dan satelit LAPAN untuk mendeteksi sebaran api yang sulit dijangkau secara langsung.
Kualitas Udara Memburuk
Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Timur menunjukkan bahwa kualitas udara di beberapa wilayah telah mencapai kategori “tidak sehat”, bahkan “sangat tidak sehat” di wilayah yang berdekatan dengan lokasi karhutla. Kadar partikel PM2.5 meningkat tajam, terutama pada pagi dan sore hari.
Masyarakat diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma dan bronkitis. Dinas Kesehatan juga mulai membagikan masker gratis dan mendirikan posko kesehatan di beberapa titik terdampak.
Peran Pemerintah dan Sanksi
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memantau situasi dan menegaskan bahwa tindakan hukum akan diberikan kepada pihak-pihak yang terbukti membakar lahan secara sengaja. Gubernur Kalimantan Timur menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir pembakaran hutan demi membuka lahan.
“Kami akan menindak tegas siapa pun yang terbukti melakukan pembakaran. Sudah ada beberapa kasus yang sedang ditangani aparat hukum,” kata Gubernur Isran Noor dalam pernyataan resminya.
Hingga saat ini, tercatat setidaknya lima kasus dugaan pembakaran lahan sedang diproses oleh kepolisian setempat, dengan barang bukti berupa alat bakar dan rekaman video dari warga.
Prediksi Cuaca dan Harapan Pemulihan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau di Kalimantan Timur akan berlangsung hingga September mendatang. Potensi hujan ringan masih rendah, dan angin kencang memperburuk penyebaran asap.
Meski demikian, sejumlah wilayah diperkirakan akan mulai diguyur hujan ringan dalam beberapa hari ke depan, khususnya di wilayah pesisir. Kondisi ini diharapkan dapat membantu proses pemadaman dan memperbaiki kualitas udara.
Penutup
Situasi karhutla di Kalimantan Timur masih menjadi perhatian serius. Pemerintah, petugas pemadam, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mencegah penyebaran api lebih luas. Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya membuka lahan dengan cara dibakar juga harus terus dilakukan.
Dengan upaya kolaboratif, diharapkan Kalimantan Timur bisa segera terbebas dari jeratan asap dan lahan-lahan yang terbakar bisa pulih kembali untuk keberlangsungan ekosistem dan kehidupan warga.