“Bioskop Terapung di Desa Muara Enggelam: Sinema Unik Menyapa Tengah Danau”
Di tengah perairan tenang Danau Melintang, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, warga Desa Muara Enggelam menikmati hiburan tak biasa: bioskop terapung di atas air. Program bertajuk “Bioskop Terapung: 3 Danau Kaltim 2025”, diinisiasi komunitas film independen Layar Mahakama, telah menarik perhatian banyak pihak dan membangkitkan antusiasme warga setempat
🎬 Layar di Atas Air: Konsep dan Lokasi
Pemutaran film dilaksanakan di tiga lokasi yang unik: Danau Melintang (Desa Muara Enggelam), Danau Semayang (Desa Sangkuliman), dan Danau Jempang (Desa Tanjung Jone). Di Desa Muara Enggelam, warga berkumpul di atas perahu ketinting menghadap layar proyeksi yang berdiri kokoh di atas danau. Suasana sinematik berpadu dengan keelokan alam, menciptakan pengalaman sinema luar ruang yang tak terlupakan
👥 Antusiasme dan Suasana Warga
Sabtu malam itu, sejumlah warga naik perahu untuk menonton film lokal berjudul Duduk Sorangan dan Guru Beru, dipantau dari ketinting. Proyek ini menjadi magnet bagi segala usia — dari tetua hingga anak-anak turut menyaksikan penayangan bersama keluarga mereka otret dari foto-foto acara menunjukkan keramaian warga di malam hari, dengan banyak perahu kecil berjajar tertib menghadap layar besar yang menyala lembut di atas air. Indah dan menyentuh, wajah-wajah penonton tampak sumringah saat film mulai berjalan
🏝 Desa Unik Tanpa Daratan
Desa Muara Enggelam adalah fenomena geografis tersendiri. Seluruh desa dibangun di atas Danau Melintang, tanpa daratan yang menyertainya. Hingga kini sekira 747 jiwa tinggal di rumah-rumah terapung, bergantung pada danau luas sekitar 1.000 hektar, dengan profesi utama mereka sebagai nelayan, kebun terapung, dan kerajinan tangan
Transportasi utama mereka adalah perahu ketinting sehari-hari — terlihat di malam bioskop terapung ini betapa lincahnya warga menjadikan air sebagai bagian dari kehidupan dan hiburan malam mereka.
🎥 Misi Budaya dan Ekonomi Lokal
Festival Bioskop Terapung ini tak sekadar hiburan; ia adalah platform untuk menyatukan seni, cerita lokal, dan komunitas. Film-film pilihan diseleksi melalui proses submission terbuka dan ditayangkan di lokasi atmosferik, menyatukan pesan lingkungan dan budaya lokal lewat medium sinema
Festival membuka ruang dialog antara kelompok budaya, sineas, warga desa, dan generasi muda. Tujuannya bukan sekadar menonton, tetapi memberi pengalaman menumbuhkan rasa memiliki cerita dan ekosistem mereka sendiri
🌊 Budaya Air, Ekonomi, dan Konservasi
Selain sebagai bentuk hiburan, proyek ini juga berupaya mendukung potensi wisata dan ekonomi lokal. Kepala Desa Muara Enggelam, Madi, menyampaikan keinginan untuk mengembangkan pariwisata seperti homestay terapung, dan menjaga ekosistem alami tetap lestari menyediakan manfaat ekonomi langsung bagi warga
Layar Mahakama bekerja sama dengan Diskominfo Provinsi dan Dinas Pariwisata maupun pemerintah desa untuk menyukseskan acara ini—dengan dukungan non-dana dan operasional agar program berjalan lancar
📅 Dari Pra-Event ke Layar Danau
Rangkaian festival dibuka di Samarinda (18 Juni 2025) dengan pemutaran film pendek di Citra Niaga Samarinda. Setelah itu berpindah ke Bontang dan Balikpapan sebelum memasuki tiga danau di Kutai Kartanegara sebagai acara utama. Festival ini juga menampilkan 24 film Indonesia terpilih dari 121 submission nasional
🔍 Mengapa Ini Heboh?
-
Inovasi hiburan: bioskop bergaya layar tancap di atas perahu adalah ide langka di Indonesia, membawa film kepada penonton yang sulit dijangkau oleh bioskop konvensional.
-
Pemberdayaan masyarakat: film ditonton langsung oleh warga, tidak hanya sebagai penonton pasif—tetapi sebagai bagian dari cerita mereka.
-
Penguatan pariwisata berbasis komunitas: ekowisata dan budaya lokal terpadu dalam satu acara sinematik.
-
Sarana edukasi: film dipilih agar mengandung muatan edukasi lingkungan, budaya, atau sosial.
✨ Penutup: Sebuah Cahaya di Atas Air
Bioskop Terapung di Desa Muara Enggelam adalah pelita kreatif di tengah malam Danau Melintang. Melampaui sekadar tontonan, ini adalah ajang merayakan hidup di atas air, merawat cerita komunitas, dan membuktikan bahwa sinema bisa hadir dengan cara paling humanis dan imajinatif.
Jika Anda penasaran dengan tampilan visual, suasana malam, atau ingin versi tulisan ini untuk media sosial, slide, atau blog, saya siap bantu mengkonversinya!