Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan kapasitas produksi 43 juta ton/tahun. Indonesia dan Malaysia menyumbang lebih dari 85% konsumsi produk olahan sawit dunia dengan nilai 65 juta ton/tahun. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai masif pada awal tahun 2000 setelah berakhirnya booming perusahaan kayu/logging. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia tercatat tumbuh 10,21 % per tahun sejak 2007-2017. Sementara, pertumbuhan Perkebunan Besar Swasta (PBS) meningkat 11,14 % per tahun (kemnetan, 2018). Sinar Mas Grup dan Wilmar Grup tercatat sebagai pemilik besar perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Kelapa sawit akan tetap menjadi sumber utama pendapatan Indonesia hingga tahun 2030. Selain kontribusi yang besar terhadap PDB (sumbang US$ 21,25 Milyar pada tahun 2017), kelapa sawit diklaim mampu serap tenaga kerja hingga 16,2 juta orang. Bahkan Pemerintah sudah mengumumkan akan menyatakan secara resmi akan mengimplementasikan B30 yang dilakukan karena Indonesia harus mencari sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT), namun hingga hari ini EBT masih bersandar pada Kelapa Sawit. Oleh karena itu, pemerintah akan terus membuat kebijakan untuk permudah dan melindungi investor sawit. Seperti yang saat ini terjadi dengan merevisi UUK No 13 tahun 2003, Omnibus Law, RUU Cipta Lapangan Kerja (CILAKA) yang masih kontroversial dan banyak mendapat kritik tajam oleh serikat buruh dan organisasi yang lain.

Kalimantan Tengah menduduki peringkat ketiga produsen kelapa sawit di Indonesia dengan produktivitas 3,5 juta ton/tahun di atas lahan seluas 1,6 juta hektar. Saat ini, setidaknya terdapat 323 Perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Tengah. Lima besar pemilik kebun sawit terbesar di Kalimantan Tengah adalah Sinar Mas, Wilmar, Astra, dan Best Agro. Secara khusus, masifnya perluasan kebun sawit telah berdampak langsung pada peningkatan konflik agraria dan pelanggaran atas hak-hak buruh setiap tahunnya. Lemahnya fungsi kontrol dan monitoring oleh pemerintah (Dinas Tenaga Kerja) dan jauhnya lokasi perkebunan dari pusat pemerintahan telah dimanfaatkan sepenuhnya oleh PBS untuk melakukan eksploitasi tanpa ampun terhadap pekerja dari setiap waktu. Buruh perempuan sebagian besar dipekerjakan di bagian perawatan oleh pemilik kebun dengan anggapan lebih cermat, teliti dan telaten dibanding buruh laki-laki. Jenis pekerjaan di bagian perawatan diantaranya pemupukan, penyemprotan, perawatan tanaman, dan pengutip berondolan. Jenis pekerjaan ini telah menyebabkan perempuan sering menjadi korban utama atas penggunaan bahan kimia berbahaya (paraquat) dalam perkebunan.

 #latepost

#tolakomnibuslaw

#tolakRUUCilaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *