Jangan Anggap Remeh! Kasus di Banjarmasin Jadi Alarm Bahaya untuk Orang Tua
Belakangan ini, sebuah kasus menyedihkan datang dari Banjarmasin. Seorang pria paruh baya diduga mencabuli anak perempuan berusia 10 tahun. Korbannya masih kecil, polos, dan sama sekali tidak tahu bahaya yang mengintainya. Kasus ini bikin hati miris—dan jadi tamparan buat semua orang tua: kita nggak bisa cuek soal perlindungan anak.
Kejahatan Bisa Datang dari Orang Terdekat
Satu hal yang perlu dipahami: pelaku kekerasan seksual terhadap anak bukan selalu orang asing. Banyak kasus menunjukkan justru pelaku adalah orang yang dikenal anak, bahkan dipercaya oleh keluarga. Dalam kasus di Banjarmasin ini, pelaku sudah kenal dengan korban. Ia mendekati korban dengan cara memberi jajanan dan perhatian. Inilah yang disebut sebagai “grooming”, alias proses manipulasi untuk mendapatkan kepercayaan anak sebelum melakukan pelecehan.
Mengerikan, kan?
Tanda-tanda Anak Mengalami Pelecehan
Pelecehan seksual tidak selalu langsung diketahui karena korban—apalagi anak-anak—sering bingung, takut, atau merasa malu. Tapi orang tua bisa mengenali tanda-tanda berikut:
-
Anak jadi lebih pendiam atau menarik diri
-
Takut bertemu atau menyebut nama seseorang tertentu
-
Perubahan drastis dalam perilaku (misalnya tiba-tiba mudah marah atau sering menangis)
-
Anak bicara atau menunjukkan pengetahuan seksual yang tidak sesuai usianya
-
Sering mengeluh sakit di area sensitif
Kalau ada yang janggal, jangan diabaikan. Dekati anak dengan lembut, jangan paksa, dan biarkan dia bicara dengan nyaman.
Cara Mencegah: 5 Hal yang Wajib Dilakukan Orang Tua
-
Ajari Anak tentang Tubuhnya Sendiri
Anak harus tahu bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Ajari bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, kecuali oleh orang tua saat merawat atau dokter dengan izin. -
Gunakan Bahasa yang Anak Pahami
Jangan terlalu rumit. Gunakan kalimat seperti: “Kalau ada orang yang pegang bagian pribadi kamu, kamu harus langsung bilang ke Bunda atau Ayah ya.” -
Latih Anak untuk Berani Berkata “TIDAK”
Anak harus tahu bahwa menolak atau lari dari situasi yang membuat tidak nyaman adalah hal yang boleh dan benar. -
Jangan Biarkan Anak Sendirian dengan Orang Dewasa Tanpa Pengawasan
Bahkan jika itu tetangga, teman dekat, atau saudara jauh—selalu pastikan ada pengawasan. -
Bangun Hubungan Komunikatif
Anak yang merasa aman dengan orang tuanya akan lebih terbuka. Pastikan kamu selalu punya waktu mendengarkan cerita anak setiap hari.
Lapor Itu Penting! Jangan Diam Kalau Ada yang Janggal
Banyak orang tua takut membuat laporan karena khawatir akan “aib keluarga”. Tapi ingat, diam berarti membiarkan pelaku bebas dan korban menderita sendiri. Kalau ada indikasi pelecehan, segera lapor ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan anak.
Beberapa lembaga yang bisa membantu:
-
P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak)
-
Komnas Perlindungan Anak
-
Polisi atau Unit PPA di Polres setempat
Penutup: Anak Bukan Hanya Tanggung Jawab Keluarga, Tapi Juga Masyarakat
Kasus di Banjarmasin ini hanyalah salah satu dari sekian banyak yang terjadi—dan mungkin tak semuanya terungkap. Jangan tunggu sampai kejadian serupa menimpa keluarga kita.
Sebagai orang tua, guru, tetangga, atau warga—kita punya peran besar menjaga anak-anak dari bahaya yang tidak kelihatan. Mulai dari edukasi, pengawasan, hingga aksi nyata jika ada tanda-tanda kekerasan seksual.
Karena setiap anak berhak hidup aman, tumbuh sehat, dan bahagia.